Antara Penyiaran dan Sawit

Oleh: Warsito, S. I. Kom
redaksi
Sabtu, 08 Jun 2019 18:38
Ist
Warsito.
Xnewss.com, -  SUATU hari saya bertemu dengan pengusaha kelapa sawit, lalu diajak untuk gabung jadi pengurus Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia. Pertanyaan pertama yang keluar dari bibir seksi saya adalah, apa kaitannya sawit dengan penyiaran?.

Jangankan kebun, sebatang pelepah pohon sawitpun saya tidak punya, bagaimana saya mau jadi pengusaha sawit?. Sebagai regulator penyiaran, tentu saja setiap hari yang saya urusi adalah penyiaran.

Setelah berbincang ngalor ngidul, tetap saya tidak menemukan hubungan antara sawit dengan penyiaran, sangat jauh sekali, ibarat pulau jawa dengan sumatera. Tapi, menurut teman saya tadi, bisa saja terhubung jika dipaksa untuk harus terhubung. Ah, maksa banget dalam hati saya.

Teman saya tadi (bukan bermaksud memamerkan) merupakan seorang pengusaha perkebunan kelapa sawit yang cukup terkenal dan telah lama malang melintang di dunia persawitan di Indonesia, kebunnya terbentang luas dijagat raya, dari Sumatera Hingga Papua, boleh dibilang sawit adalah makanan sehari-harinya, jika sehari saja tidak "makan" sawit bisa masuk ICU dia.

Lalu apa kaitannya penyiaran dengan sawit?. Pertanyaan itu masih terus saja menggelayut seolah menghantui (pocong keles) fikiran saya, membuat saya semakin penasaran.

Setelah saya tanya sama mbah google, ternyata sawit pada awalnya dibawa ke Indonesia oleh Pemerintah Hindia Belanda sejak tahun 1848, yang awalnya hanya dijadikan sebagai tanaman hias di Kebun Raya Bogor dan pinggir jalan di Deli Serdang Sumatera Utara pada tahun 1870.

Karena permintaan minyak nabati cukup tinggi maka pada tahun 1911 mulai dibudidayakan di wilayah Sumatera Utara, Aceh hingga Malaysia. Hingga pada masa orde baru digalakkan perluasan perkebunan kelapa sawit melalui sisten Perkebunan Inti Rakyat (PIR) melalui program transmigrasi atau lebih dikenal dengan trans PIR. Hingga akhirnya banyak perusahan-perusahaan swasta maupun pemerintah yang menggeluti bidang usaha ini. Bahkan masyarakat banyak yang lahan-lahan dialihfungsikan dari pertanian ke sawit karena sawit dinilai komoditi yang lebih menjanjikan dibanding yang lain.

Sawit, atau bahasa kerennya Elaeis, adalah sebuah tanaman rimbun, batangnya tunggal, daunnya pajang dan berlidi, buahnya kecil menyerupai kelapa (namanya juga kelapa sawit) berukuran kecil kira-kira sebesar duakali jempol kaki tapi menyatu sehingga berbentuk bonggol atau tandan, mengandung minyak nabati. Jarak tanam beberapa meter antara batang satu dengan lainnya, hal itu menghindari pertemuan antar pohon karena pelepah daunnya yang panjang. Biasanya satu perusahaan perkebunan terhampar luas hingga ribuan hektar.

Sedangkan penyiaran, juga sudah ada sejak masa penjajahan Belanda di Indonesia, merupakan sebuah aktifitas penyebarluasan informasi, maupun hiburan melalui alat pemancar tertentu dan dapat diterima secara bersamaan yang juga menggunakan perangkat tertentu. Pada masa penjajahan digunakan sebagai media propaganda untuk mengobarkan semangat para pejuang kemerdekaan.

Fungsi penyiaran sebagai sarana hiburan yang sehat, sebagai media informasi yang layak dan benar sesuai hak asasi manusia, sebagai sarana edukasi, sebagai media untuk mempererat dan empati sosial. Pada perkembangannya, penyiaran telah banyak jenisnya, mulai dari televisi, radio yang free hingga lembaga penyiaran berlangganan melalui satelit.

Jika dikaitkan antara penyiaran dengan sawit memang tidak akan ketemu, tetapi jika tetap maksa bisa saja dikait-kaitkan.

Antara penyiaran dan sawit sangat mungkin saling membutuhkan. Seperti pulau Jawa dengan Sumatera tadi, jika dipaksa harus terhubung bisa saja jadi jembatan yang menghubungkan antara kedua pulau tersebut.

Dihamparan perkebunan sawit yang sangat luas sudah pasti ada manusia yang mengelolanya, mereka yang jauh dari pusat keramaian kota sudah pasti memerlukan sarana informasi dan hiburan, baik informasi tentang sawit itu sendiri maupun lainnya.

Sedangkan penyiaran membutuhkan audien yang kuat demi keberlangsungan hidupnya, jika audien sebuah penyiaran semakin jelas segmennya maka semakin besar potensi pendapatan bagi penyiaran. Akan tetapi yang paling penting adalah penyiaran sebagai media pemersatu bangsa.

Selama ini, penyiaran yang berpotensi hadir dan dapat menjangkau hingga ke hamparan perkebunan yang luas hanyalah penyiaran televisi melalui satelit berskala nasional. Sementara lembaga penyiaran berskala lokal yang dapat menghubungkan dan mempererat sosial diantara mereka penghuni perkebunan belum pernah dijumpai. Sementara jumlah mereka cukup banyak.

Oleh sebab itu, sangat penting penyiaran hadir di perkebunan, bisa menggunakan lembaga penyiaran komunitas, atau lembaga penyiaran swasta yang memiliki segmen khusus dibidangnya. Jika saat ini ada Lembaga Penyiaran Swasta (LPS) Khusus Kesehatan, kebencanaan, dan pendidikan, maka sudah saatnya ada lembaga penyiaran khusus bidang perkebunan.***

Penulis adalah Komisioner KPID Riau Bidang Pengelolaan Struktur dan Sistem Penyiaran.
T#g:
komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2019 xnewss.com. All Rights Reserved.

Tentang Kami

Pedoman Media Siber

Disclaimer

Iklan

Karir

RSS

Kontak